buyer persona

Buyer Persona, Si Senjata Ampuh untuk Strategi Pemasaran

Setiap bisnis pasti punya tipe pelanggan ideal. Ternyata, ini merupakan konsep yang benar-benar ada di dunia pemasaran, namanya: buyer persona (persona pembeli). 

Ia pun punya banyak sebutan, tergantung bidang bisnisnya. Misalnya: customer persona, audience persona, maupun marketing persona. 

Apa sih fungsinya? Nah, di artikel ini kamu bakal tahu apa itu buyer persona, manfaat, dan trik membuat buyer persona.

Apa itu Buyer Persona?

elemen buyer persona

Buyer persona adalah deskripsi mendetail tentang “seseorang” yang menggambarkan target pelanggan/audiensmu. 

Tentu saja itu bukan wujud pelanggan asli, alias konsep—yang punya karakteristik sebagai pembeli potensial. Bayangkan product mockup, tapi ini orang bukan produk. 

Layaknya menulis karya tulis fiksi, kamu akan “menghidupkan” orang ini. Bagaimana caranya? Gampang! Berikan nama, detail demografi, minat, hingga pembawaan diri di keseharian. 

Dari situ, kamu akan tahu apa tujuan hidupnya, hal yang tidak disukai/masalah/kendala (pain points), maupun pola belanjanya. 

Setelah jadi konsepnya, sekarang kamu bisa sekalian memberi wajah. Jangan pusing, cari gambar dari website penyedia gambar ilustrasi—gratis maupun berbayar. 

Jangan merasa aneh dengan kegiatan ini. Soalnya beberapa perusahaan sampai ada yang mencetak konsep orang ini ke bentuk banner berdiri supaya lebih tampak nyata!

Apa manfaat buyer persona

Kamu mesti penasaran, kenapa sih repot-repot membuat buyer persona. Nah, di bawah ini kamu akan temukan jawabannya.

1. Membantumu fokus menyasar pelanggan yang tepat

Buyer persona akan membantumu menyasar tipe pelanggan ideal secara lebih tepat. Konsep ini akan selalu mengingatkanmu agar menempatkan keinginan dan kebutuhan pelanggan lebih dulu (customer first). 

Konsep buyer persona ini kemudian bisa kamu jadikan pedoman untuk banyak hal. Mulai dari pengembangan produk, pembuatan branding, hingga cara komunikasi terbaik di kanal media sosial yang bisnismu jalankan.

Apapun itu, kamu jadi tidak asal menyasar sembarang orang. Misal kamu berencana membuat kampanye pemasaran baru, kamu hanya akan mengeksekusi ide yang sesuai dengan buyer persona-mu. 

Sebab, kamu sadar kalau tidak ada gunanya menjalankan ide yang tidak sesuai dengan kebutuhan target bisnismu. Walaupun ide itu kelihatannya sangat menarik.

2. Menyesuaikan strategi pemasaran dari perspektif pelanggan

Buyer persona membantumu memprioritaskan kebutuhan pelanggan, bukan egomu sendiri. Ini termasuk juga dalam hal komunikasi dan strategi pemasaran.

Selama ini banyak marketer yang punya kebiasaan ngomong pakai bahasa bisnis yang teknis dan kalimat-kalimat bombastis. 

Misalnya: ketika memasarkan produk, mereka lebih suka menyebutkan satu per satu spesifikasinya. Sampai-sampai ada yang menyebutkan tipe mesin, kecepatan putaran, klaim tingkat kecerahan, dan bahasa-bahasa teknis lain. 

Apakah itu salah? Belum tentu. Tetapi di mata dan telinga calon pembeli, itu ibarat angin lalu. Antara tidak nyambung dan bahasanya tidak umum. Jadi promosinya terkesan tidak menarik. 

Melalui buyer persona, kamu diingatkan untuk berkomunikasi sesuai dengan gaya target pelangganmu. Dengan begitu, kamu bisa memikat pelanggan dan membuat mereka loyal.

Baca juga: Apa itu Strategi Pemasaran? Inilah Cara Mudah Mempelajarinya

3. Membidik target iklan dengan lebih efektif

Satu lagi manfaat dari buyer persona ialah membantumu memasang iklan online dengan lebih tepat. Apalagi sekarang iklan online memungkinkan kamu memilih target audiens yang spesifik.

Kamu tinggal centang atau isi kolom rencana iklan sesuai kebutuhan. Mulai dari jenis kelamin, rentang umur, topik yang disukai, sampai dengan lokasi. Jadi, kamu bisa bidik audiens sepresisi mungkin. 

Bahkan, kamu bisa gunakan beberapa buyer persona jika memang kamu punya segmen pasar yang beda. Gunakan ini untuk membuat konten iklan terpisah. Dengan begitu, kamu bisa menjangkau calon pelanggan dengan cara sepersonal mungkin. 

Iklan tertarget macam ini terbukti mampu meningkatkan angka konversi dan penjualan. 

Mengenal Konsep Buyer Persona Spring

buyer persona spring

Sebelum membuat buyer persona, kamu harus belajar dulu teori buyer persona spring. Metode ini dikembangkan oleh profesor bisnis dan penulis: Aleksej Heinze, Gordon Fletcher, Tahir Rashid, serta Ana Cruz. Mereka membuat model yang dapat digunakan untuk menghubungkan tujuan bisnis dengan buyer persona-mu. Caranya melalui tiga poros: 

  • Konten: apa konten yang paling nyambung dengan pelanggan idealmu?
  • Channel: apa kanal media sosial yang paling banyak diakses oleh pelangganmu?
  • Data: data yang bagus memungkinkanmu untuk memonitor progres, memberi laporan tingkat kesuksesan, dan merevisi strategi sesuai kebutuhan.

Masing-masing poros perlu dieksekusi dengan empat langkah, yaitu rencana, eksekusi, pengamatan, dan evaluasi

Kira-kira begitulah teori jika ingin membuat buyer persona. Supaya bisa efektif, Bitlabs ingatkan lagi, kalau buyer persona perlu dibuat dari data yang valid. Bukan cuma kira-kira, apalagi “insting”. 

Itu kenapa di bagian selanjutnya, kita akan membahas langkah-langkah menciptakan buyer persona.

Bagaimana cara menciptakan buyer persona?

Untuk membuat buyer persona, kamu perlu mencari tahu beberapa info dari target audiensmu. Mulai dari data pribadi, kebiasaan, kesulitan, sampai tujuan yang ingin dicapai audiens. Lebih detailnya, simak penjelasan di bawah ya…

1. Data pribadi

Ada beberapa data pribadi yang perlu kamu cari tahu. Caranya, cukup tanyakan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa jenis kelamin konsumen?
  • Berapa umur konsumen? 
  • Di mana konsumen ini tinggal? 
  • Apa bahasa keseharian yang dipakai konsumen?
  • Seberapa besar daya beli dan penghasilannya?

Kalau sasaranmu ternyata adalah perusahaan (B2B), coba cari tahu data pribadi orang yang memutuskan pembelian. 

Untuk tahu informasi seperti yang di atas, kamu bisa gunakan berbagai tools analytics. Mulai dari Google Analytics, Facebook Audience Insights, atau bahkan database pelangganmu sendiri. 

Baca juga: Instagram Insight, Cara Gampang Kepoin Followers-mu

2. Kebiasaan

Agar cara komunikasimu lebih tepat sasaran, kamu juga wajib cari tahu kebiasaan target konsumenmu. Berikut ini daftar pertanyaannya:

  • Topik apa yang menarik minat konsumen?
  • Channel media sosial apa saja yang kerap ia gunakan?
  • Kapan saja waktu ia menggunakan sosial media?
  • Apa hobi konsumen?
  • Merek-merek apa saja yang suka dibeli konsumen?

Untuk mengetahui kebiasaan konsumen, kamu bisa memanfaatkan beberapa marketing tools. Misalnya, Keyhole.co, Hootsuite, dan Buzzsumo.

3. Kesulitan yang dirasakan

Membuat buyer persona itu bukan cuma perkara agar dekat konsumen. Kamu mau konsumen ini selalu menggunakan produk/jasa yang kamu tawarkan.

Karenanya, kamu harus memahami kesulitan yang dirasakan konsumen. Kamu bisa tanyakan hal-hal di bawah ini ke bagian customer service atau buat survei khusus:

  • Masalah apa yang dihadapi pelanggan potensialmu? 
  • Seberapa besar masalahnya? 
  • Solusi seperti apa yang dicari? 
  • Apa yang menghalangi mereka untuk mencapai solusi itu? 

Setelah dapat jawaban dari pertanyaan di atas, tugasmu kemudian adalah merinci bagaimana produk/jasamu bisa mengatasi kesulitan tersebut. 

Sebisa mungkin fokuskan perhatianmu pada manfaat yang bisa kamu tawarkan ke pelanggan. Bagaimana produk/jasamu dapat membantu membuat hidup pelanggan lebih mudah dan lebih baik. 

Jangan berpikir tentang fitur produk dan sebagainya. Sebab, ini nantinya hanya akan berujung pada bahasa teknis yang membingungkan. 

4. Tujuan yang ingin dicapai

Berikutnya kamu bisa cari tahu harapan atau tujuan yang ingin dicapai pelanggan. Ini berbeda ya dari poin yang sebelumnya dibahas.

Harapan atau tujuan merupakan hal positif yang sebenarnya diinginkan pelanggan. Hal ini bisa berhubungan langsung dengan produk/jasa yang kamu tawarkan. Misalnya, penambahan fitur atau perbaikan sistem.

Tapi kadang-kadang tujuan juga tidak berhubungan dengan produk/jasa sama sekali. Jadi, kamu hanya perlu mencari tambahan informasi dari konsumen. Misalnya, motivasi membeli atau manfaat lain yang dicari. Intinya, informasi ini membuatmu mengenal pelanggan lebih dalam. 

Untuk mendapatkan informasi semacam ini, kamu bisa ngobrol dengan bagian sales di perusahaanmu. Bisa juga dengan terus memantau apa yang dikatakan calon konsumenmu media sosial. 

Contoh buyer persona

Kini kamu sudah punya materi yang banyak. Mulailah menyaring karakteristik yang mirip-mirip. Dari situ kamu akan mendapati persona pelanggan unik yang relevan dengan bisnismu.  

Masih belum jelas? Mari kita tengok contoh kasus berikut ini:

1. Buyer Persona untuk B2B

Ada sebuah perusahaan pengantar makanan bernama Ena’. Ia kemudian membuat aplikasi untuk smartphone demi meningkatkan kepuasan pelanggan.

Di aplikasinya ini, Ena’ ingin lebih mendekatkan pemilik UMKM makanan dengan pelanggan. Selain itu, ia juga ingin memudahkan penggunanya untuk menemukan tempat-tempat makan baru. Setiap hari akan ada konten rekomendasi tempat makan yang berbeda-beda. Pembeli tinggal menunggu pesanan diantar ke rumah setelah memesan.

Untuk itu, setelah melakukan riset pasar, tim Ena’ pun membuat dua tipe buyer personas. Pertama untuk skema B2B:

buyer persona ena'

2. Buyer Persona untuk B2C

Butuh contoh lagi? Ada website yang menyediakan layanan perbukuan, sebut saja: PublishBukuku. Ia bergerak di jasa penerbitan on-demand (berdasarkan permintaan). Perusahaan ini ingin membantu para penulis yang ingin dengan mudah menerbitkan karya-karyanya secara independen.

Nantinya, penulis tinggal melakukan submisi file buku secara mandiri. Template untuk layout isi dan sampul sudah disediakan sehingga ia tinggal mengunggahnya di website. Di bagian distribusi, penulis dapat mengatur harga dengan skema bagi hasilnya juga tertera (tanpa perlu mengeluarkan uang di muka).

Buku yang sudah terunggah nantinya akan tersedia di toko online mereka dan akan dicetak tiap ada pesanan. Keunggulan lain, PublishBukuku juga akan menjualnya dalam bentuk e-book di akun Google PlayStore.

Setelah mengumpulkan data dan menganalisisnya, buyer persona yang tercipta (B2C) kurang lebih:

buyer persona publishbukuku

Siap Buat Buyer Persona untuk Bisnismu Sendiri?

Nah, dengan deskripsi persona di atas, kamu pun akan punya visual jelas dan lebih mudah dalam membuat strategi pemasaran. Target pelanggannya lebih nyata dan personal. Penggalian insights-nya pun menjadi lebih terarah dan bisa tepat sasaran. 

Jadi, jangan ragu untuk membuat buyer persona untuk bisnismu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

search engine

Apa itu Search Engine? Si Mesin Ajaib Penguasa Internet

13+ Search Engine Alternatif Selain Google!